Dinilai Asal Jadi, Menu MBG di Paluta Tuai Protes Keras Orang Tua

PALUTA || Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan gizi anak justru menuai sorotan di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta).

 

Iklan Banner

Kali ini, sorotan datang dari sejumlah orang tua siswa di Kecamatan Padang Bolak yang mempersoalkan menu MBG yang dinilai minim, sederhana, dan jauh dari ekspektasi makanan bergizi bagi anak-anak.

 

Iklan Banner

Keluhan tersebut mencuat setelah foto menu MBG yang dibagikan kepada siswa pada Rabu (2/9/2026) beredar luas di media sosial Facebook. Dalam foto tersebut terlihat satu paket makanan dalam wadah stainless yang berisi nasi putih, satu butir telur rebus, satu buah jeruk, serta beberapa potong tomat mentah.

 

Iklan Banner

Menu tersebut sontak mengundang reaksi dari masyarakat. Sejumlah orang tua mempertanyakan kelayakan menu tersebut, terutama dari sisi keberagaman lauk, porsi, serta pemenuhan kebutuhan gizi anak.

 

Diketahui, makanan tersebut berasal dari dapur MBG yang berlokasi di Paranginan, Desa Gunungtua Jae, yang dikelola oleh SPPG Gunungtua Jae di bawah naungan Yayasan Khayana Pelita Mandiri.

 

“Bagaimana ceritanya ini disebut makanan bergizi kalau menunya seperti ini? Mana mungkin anak-anak mau dan bisa makan lauk begini?” keluh Anhar Siregar, salah seorang orang tua siswa SDN 101080 Gunungtua.

 

Bukan Kali Pertama

Persoalan tersebut ternyata bukan sekadar keluhan yang muncul akibat satu kali kejadian.

Seorang ibu rumah tangga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku, menu dengan kualitas dan porsi yang dinilai kurang layak tersebut sudah beberapa kali diterima anaknya di salah satu sekolah dasar di kawasan Pasar Gunungtua.

 

Menurutnya, kondisi tersebut bahkan telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan.

“Bukan sekali dua kali, ini sudah sering terjadi. Kami disuruh komplain langsung ke pihak pengelola. Sudah sering kami protes, tapi tetap tidak ada perubahan. Cuma minta maaf saja, tapi praktiknya tidak ada perbaikan,” ujarnya kecewa.

 

Keluhan serupa juga datang dari seorang kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang bertugas membantu menyalurkan MBG kepada penerima manfaat B3 di desanya.

 

Ia mengaku pernah mempertanyakan kondisi menu kepada pihak pengelola dapur. Namun, alih-alih mendapatkan penjelasan, ia mengaku mendapat respons yang dinilai kurang menyenangkan.

 

“Saya sempat mempertanyakan kondisi menunya, tapi dijawab kasar. Mereka bilang, ‘Tidak usah protes, kerjamu hanya menyalurkan’,” katanya, menirukan ucapan pihak pengelola dapur.

 

SPPG Akui Ada Kelalaian

Menanggapi protes yang berkembang di tengah masyarakat, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Paluta, Edi Kurniawan Siregar, angkat bicara.

 

Edi menyampaikan permohonan maaf atas menu yang diterima sebagian siswa tersebut. Ia mengatakan pihak SPPG telah melakukan konfirmasi terkait persoalan itu.

 

“Hal ini sudah kami konfirmasi ke pihak terkait. Pihak SPPG memohon maaf, memang terdapat sekitar 100 porsi makanan yang tersaji seperti itu. Hal tersebut dikarenakan adanya miskomunikasi antara divisi distribusi dan divisi pemorsian,” ujar Edi saat dikonfirmasi.

 

Ia memastikan kejadian serupa tidak akan terulang pada penyaluran MBG berikutnya.

Namun, di tengah polemik tersebut, Kepala SPPG Gunungtua Jae, Adi Siregar, belum memberikan tanggapan ketika dikonfirmasi langsung oleh awak media terkait persoalan menu MBG tersebut.

 

Masyarakat Minta Pengawasan Diperketat

Polemik ini pun mendorong masyarakat meminta instansi terkait tidak sekadar menerima permintaan maaf, tetapi melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di lapangan.

 

Masyarakat berharap pengawasan terhadap dapur penyedia makanan diperketat, mulai dari kualitas dan keamanan bahan makanan, kecukupan porsi, kebersihan proses pengolahan, hingga kesesuaian kandungan gizi dengan kebutuhan anak.

 

Program MBG pada dasarnya hadir untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan makanan yang bergizi. Karena itu, kualitas makanan yang diterima siswa menjadi bagian penting yang tidak boleh luput dari pengawasan.

 

Jika persoalan serupa terus terjadi, dikhawatirkan tujuan utama program tersebut justru tidak tercapai secara maksimal.

 

Kini, publik menunggu langkah konkret dari pihak-pihak terkait untuk memastikan MBG di Paluta bukan sekadar makanan yang dibagikan kepada anak-anak, tetapi benar-benar makanan yang memenuhi standar gizi, layak konsumsi, dan memberikan manfaat sebagaimana tujuan program tersebut. (DsP)

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

PembaharuanTodays.com

Merupakan Media Online dengan mengutamakan informasi yang Cerdas, Akurat dan Berimbang